Jakarta - Bursa-bursa di seluruh dunia tak ada satupun yang mampu mencatat kenaikan positif selama tahun 2008. Hampir semuanya menutup tahun 2008 dengan penurunan yang besar sekaligus menorehkan catatan terburuk.
Berikut 20 indeks saham dari berbagai belahan dunia yang mencatat penurunan paling besar sepanjang 2008, seperti dikutip detikFinance dari AFP, Kamis (1/1/2008).
1. Reykjavik (OMX index) -94,4 persenn
2. Moscow (RTS) -72,5 persen
3. Dubai (DFM) -72,4 persen
4. Bucharest (BET) -70,5 persen
5. Dublin (IOI) -66,2 persen
6. Hanoi (HCMSI) -65,9 persen
7. Shanghai (SE Composite) -65,4 persen
8. Athena (Athex) -65,3 persen
9. Wina (ATX) -61,2 persen
10. Lima (IGBVL) -59,9 persen
11. Pakistan (KSE-100) -58,3 persen
12. Riyadh (Tadawul) -56,5 persen
13. Kairo (Case 30) -564 persen
14. Brussels (Bel-20) -53,8 persen
15. Helsinki (OMX Helsinki) -53,4 persen
16. Budapest (BSEI) -53,3 persen
17. Oslo (OBX) -52,8 persen
18. Mumbai (Sensex 30) -52,5 persen
19. Amsterdam (AEX) -52,3 persen
20. Istanbul (ISE 100) -51,6 persen
Sementara Indeks Harga Saham Gabungan di Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga 26 Desember 2008 tercatat turun 51,17% ke level 1.340,89. IHSG di BEI mencatat yang terburuk keempat di seluruh Asia Pasifik. IHSG sedikit lebih baik ketimbang indeks saham di Shenzen, Shanghai, dan Mumbai.
Untuk bursa-bursa utama dunia lainnya seperti di Eropa dan Wall Street juga tak luput dari penurunan tajam. Berikut catatan indeks saham di bursa-bursa utama dunia:
* Dow Jones Industrial Average -33,84%
* Standard & Poor's -38,49%
* Nasdaq -40,54%
* Nikkei -42,12%
* DAX Frankfurt -40,37%
* CAC Paris -40,37
* FTSE London -31,33%
* Bovespa Brasil -41,22%.
"Ini adalah sebuah tahun dimana sistem finansial kita diuji tidak seperti waktu-waktu lain setelah Great Depression," ujar Kevin Giddis, analis dari Morgan Keegan seperti dikutip dari AFP.
"Kita melihat kisah kolapsnya perusahaan-perusahaan secara lengkap di Wall Street. Kita melihat Treasury bills (T-Bills) mencatat yield yang negatif dan kita juga telah melihat pemerintah AS memasuki sebuah kericuhan yang menunjukkan bahwa dinding kapitalisme runtuh hingga ke dasarnya," tambahnya.
Bagaimana dengan tahun 2009? Optimisme memang ada seiring dengan harapan baru di AS --- yang merupakan pusat krisis --- dengan pelantikan Barack Obama sebagai presiden. Tim baru Obama diharapkan segera memperbaiki berbagai kekusutan perekonomian.
Namun menurut Giddis, banyak tantangan yang harus dilewati di tahun 2009. Berbagai masalah menghadang seperti melemahnya pertumbuhan ekonomi, sistem perbankan yang masih berupaya memperkuat lagi posisinya serta pasar perumahan yang harus berjuang mengatasi kelesian.
"Namun ada harapan. Pada satu titik, prakarsa yang sudah diambil The Fed dan Depkeu AS akan bekerja, dan mereka harus, sementara bank-bank akan mulai lagi memberikan kredit pada skala yang lebih besar," imbuh Giddis.