Krisis Global Mengubah Gaya Berbelanja Warga Inggris (1)
Pindah Pasar Swalayanmu, Bukan Gaya Hidupmu
Warga Inggris dulu dikenal sangat menjaga gengsi dan prestise ketika memilih tempat belanja yang sesuai dengan status sosial mereka. Namun, krisis finansial yang hingga kini belum diketahui kapan berakhir telah mengubah segalanya.
Poor food for poor people (Makanan murahan untuk warga kelas bawah), begitu pandangan umum di Inggris kepada Aldi dan Lidl, dua supermarket murah di Inggris yang dari sisi penampilan adalah si buruk rupa dalam dongeng Beauty and the Beast. Terutama jika dibandingkan dengan supermarket besar: Waitrose, Sainsbury, Tesco, ASDA, dan Morrison.
Ini adalah Inggris, negara tempat kelas sosial tidak hanya dilihat dari perbedaan cara bicara, perbedaan kode pos tempat tinggal, namun juga pada tempat dia berbelanja kebutuhan sehari-hari. Miliuner akan berbelanja di Harrods Food Hall, para eksekutif bakal berbelanja di Waitrose, kelas menengah akan berbelanja di Sainsbury dan Tesco, menengah bawah memilih ASDA atau Morrison, dan poor people bakal berbelanja di Aldi dan Lidl.
Terjadinya credit crunch membuka kedok bahwa banyak supermarket besar di Inggris yang mengambil margin keuntungan yang jauh lebih tinggi daripada seharusnya. Kenyataan itulah yang diungkapkan Aldi dalam kampanye iklan-iklannya. Slogan terakhir Aldi adalah Don't change your lifestyle, change your supermarket (Jangan ubah gaya hidupmu, tapi ganti pasar swalayanmu). Menurut data, penjualan Aldi pun naik 30 persen sejak credit crunch melanda Inggris.
Supermarket murah lain, Lidl juga diuntungkan krisis saat ini. Pertumbuhan pasar swalayan yang juga berasal dari Jerman itu naik 13 persen. Menurut survei independen majalah Which? Lidl terpilih sebagai pasar swalayan terbaik dengan harga termurah (the Best Value-for-Money Retailer).
Terry Tyrrell, direktur utama Brand Union, lembaga konsultasi merek yang bermarkas di London, mengakui bahwa credit crunch telah meruntuhkan prinsip orang Inggris dalam berbelanja. Dulu masyarakat di sana dikenal sebagai the most class-conscious shopping habits di Eropa, yakni seseorang berbelanja untuk memperlihatkan status sosialnya di masyarakat.
Dengan adanya krisis yang mengganggu kantong mereka, lanjut Terry Tyrrell, terjadi perubahan dari ''status'' ke ''value''. Orang tidak lagi peduli apakah supermarket pilihannya mencerminkan kelas sosial mereka. ''Tapi, lebih pada apakah supermarket pilihannya bisa menguntungkan diri mereka.''
Krisis Global Mengubah Gaya Berbelanja Warga Inggris (2)
Kacaukan Pasar dengan Jual Seperseratus Harga Pesaing
Banyak brand terkenal yang selama ini mengambil margin keuntungan terlalu tinggi kelabakan setelah adanya krisis. Produk mereka disaingi pendatang baru yang menerapkan konsep produk masal, ngetren, dan ambil margin rendah sehingga bisa jual dengan harga super murah.
Selamat datang di Primark, toko high street yang fenomenal di Inggris. Di sana, baju dijual dengan harga yang sama, bahkan di bawah biaya sekali makan siang di London.
Oleh para pemerhati fashion namanya sering dipelesetkan menjadi Prada-Mark. Bahkan, selebriti terkenal seperti Coleen McLoughlin, istri bintang sepakbola Wayne Rooney, tanpa risih menenteng tas belanjaan Primark bersama tas bermerek Cloe atau Balenciaga. Ketenaran produk itu juga terlihat dari produk keluarannya yang ditampilkan majalah elite Vogue dan Instyle. Satu model baju bisa terjual hingga puluhan bahkan ratusan ribu potong.
Di Inggris yang kini terkena dampak krisis global (credit crunch), merek paling "in" saat ini bukan lagi Prada, Louis Vuitton, Gucci, Versace, atau merek desainer terkenal lain, tapi Primark. Sampai-sampai judul film terkenal tentang dunia fashion, yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama, The Devil Wears Prada pun diubah dengan nada guyon menjadi The Devils (now) Wears Primark.
Ketika Primark membuka cabang terbesarnya di Oxford Street, jantung perbelanjaan di London tahun lalu, peristiwa itu dijuluki sebagai cultural event dengan ribuan pembeli antre sepanjang jalan. Mereka masuk berdesakan, saling injak dan dorong, sehingga hampir terjadi kerusuhan. Di tengah ekonomi yang mendung saat ini, saat produk desainer terkenal dan high street (istilah di Inggris untuk industri retail) lain turun penjualannya, Primark justru makin bersinar terang.
Kunci sukses Primark sangat sederhana. Yakni, harga yang sangat murah, tapi dengan model yang tidak kalah dengan produk desainer terkenal. Pada saat krisis (credit crunch) seperti sekarang, Primark "tick all the boxes", begitu komentar umum di Inggris: bagus, gaya, modelnya selalu baru, dan murah!
Awalnya Primark hanya digemari pelajar dan mahasiswa, kalangan yang memperhatikan penampilan, tetapi dengan bujet yang tipis. Di sana mereka bisa mendapatkan jins model terbaru dengan harga GBP 12, sementara paling murah di toko lain adalah GBP 40. Namun, sekarang pekerja kantoran serta fashionista yang berkantong tebal pun berburu di Primark.
Primark bisa menjual baju dengan harga murah karena produknya dibuat di Tiongkok, India, atau Eropa Timur. Selain menekan biaya produksi, Primark mengambil margin keuntungan yang kecil untuk setiap produknya. Selain harga, Primark memastikan produknya mengikuti tren, ditampilkan dalam peragaan busana para desainer terkenal, atau dipakai para selebriti. Strategi kunci lainnya adalah kecepatan. Dari konsep hingga sampai di toko, Primark hanya perlu waktu maksimal enam minggu.
Memang Harrods, pertokoan paling mewah di Inggris milik Mohamad Al Fayed, masih ramai. Namun, biasanya di sana mereka hanya cuci mata (window shopping) dan berfoto di monumen Puteri Diana-Dodi Al Fayed yang berada di lantai dasar. Tapi, giliran mau transaksi belanja, mereka berpindah tempat ke gerai Primark.
KRISI GLOBAL MENGUBAH GAYA BERBELANJA Warga Inggris (3)
Krisis bukan hanya memukul industri retail, tapi juga bisnis wisata dan hospitality seperti restoran. Mereka tertantang untuk menemukan kiat mengatasi kelesuan akibat warga Inggris yang lebih senang memilih tinggal di rumah.
LIBURAN Natal dan tahun baru kali ini terasa beda bagi warga Inggris. Kalau dulu mereka dikenal sebagai pelancong yang banyak memenuhi tempat-tempat wisata terbaik di dunia, krisis membuat mereka memilih tinggal di rumah. Bahkan, baru saat terjadi credit crunch sekarang ini ada istilah yang populer di kalangan masyarakat; staycation.
Dengan staycation, warga memilih -kalau pun mau ber-vacation atau berlibur- tetap di Inggris dan tidak ke luar negeri. Bahkan, dalam bentuk yang ekstrem, tetap tinggal (stay) di kota atau di rumah. Karena itu, meski travel agents (agen-agen wisata) memberikan iming-iming dengan menurunkan harga paket wisata ke luar negeri, warga tetap bergeming.
Di London, saat ini, Somerset House yang berada di pusat kota London menjadi tempat yang ramai dikunjungi warga kota. Anak-anak dan remaja mengisi liburan Natal dan tahun baru dengan bermain seluncur es di lapangan terbuka bangunan abad ke-18 yang pernah ditempati para raja-ratu Inggris. Kali ini, warga Inggris harus melupakan liburan ke tempat-tempat yang hangat saat negeri mereka didera musim dingin menggigil.
Fenomena itu termasuk hal yang tidak biasa. Sebab, selama ini warga Inggris menganggap liburan minimal sekali dalam setahun bukan sebuah kemewahan. Ini sebagai keniscayaan atas kerja keras mereka mencari nafkah.
"Anda bisa hidup tanpa membeli mobil baru atau lemari es paling modern. Tapi, liburan bukanlah kemewahan. Bahkan, itu menjadi hal terakhir untuk dicoret saat krisis ekonomi," kata Malcolm Bell, direktur South West Tourism, sebuah kawasan wisata paling ramai di Inggris, kepada The Times.
Malcolm Bell adalah salah seorang yang getol mengajak warga Inggris untuk tetap berwisata, terutama staycation alias menjadi wisatawan domestik di negeri sendiri.
Selain memilih staycation, warga Inggris saat ini juga mengurangi makan di luar (restoran) dan lebih sering memasak sendiri di rumah. Bahkan, acara-acara keluar rumah, seperti nonton bareng di bioskop atau pergi ke bar, diganti dengan mengundang teman makan bersama di rumah. Hiburannya, main game bersama atau nonton DVD.
Sebuah survei oleh Halifax, perusahaan asuransi rumah, menyimpulkan bahwa credit crunch membuat 60 persen warga Inggris memilih tidak keluar rumah pada saat malam Minggu. "Mereka menghitung biaya transpor, makan, minum, hiburan, dan pengeluaran lain saat bermalam Minggu di luar rumah cukup tinggi sehingga warga memilih untuk stay in. (Sebagai gantinya) mereka mengundang teman atau tetangga ke rumah," kata juru bicara Halifax.
Saat krisis ini membuat orang-orang Inggris tidak lagi royal membelanjakan uangnya. Hasil survei Halifax, 84 persen responden mengaku sekarang sangat berhati-hati dalam mengeluarkan uang dibanding sebelum krisis, serta 73 persen memilih membeli barang saat ada potongan harga. Bahkan, 15 persen responden memilih janjian pergi berbelanja bareng untuk menghemat BBM kendaraan.
Saat rakyat Inggris prihatin sehingga mengencangkan ikat pinggang seperti saat ini, para pejabat Inggris juga menjadi ekstra hati-hati. Mereka tak ingin dikesankan bermewah-mewah saat rakyatnya menderita. Karena itu, mereka pun memilih berlibur di dalam negeri alias staycation.
Dampak begitu ketatnya warga Inggris menyimpan dompet itu membuat banyak industri terpukul. Gaya hidup baru yang menyebut staying in is new going out (tinggal di rumah adalah pilihan baru pergi ke luar) membuat para pengusaha restoran ketir-ketir. Sebab, kelangsungan industri restoran atau hospitality industry itu sangat penting bagi ekonomi Inggris. Sebab, industri jasa bernilai 75 miliar poundsterling dan mampu menyerap hampir 2 juta tenaga kerja.
Berbagai kiat dilakukan. Misalnya, pemilik restoran meminta para juru masak melakukan "menu-engineering" alias mengakali menu agar bisa menekan pengeluaran sehingga harga jual bisa turun atau setidaknya tetap.
Sadar atau tidak, kini pelanggan Searcy yang pesan steak, misalnya, dapat potongan yang lebih kecil daripada sebelum krisis. Seperti yang diakui Dunkan Ackery, juru masak Searcy yang mengurangi porsi makanan di restorannya untuk menekan harga. Selain itu, juga mengganti menu dengan bahan-bahan alternatif yang lebih murah untuk tetap bisa bertahan.
With advances in technology
With advances in technology the manufacturers of A.Dunhill are using more foolproof technologies to deter their A.Lange&Sohne from being copied. But then, the Alain Silberstein of Audemars Piguet are also using the same technology to manufacture their B.R.M and hence these timepieces are exact replicas of the Baume & Mercier. There are countless people who have been gifted with these Bell&Ross, Cartier, Chanel, Chopard, Christian Dior, Chronoswiss, Concord, Corum, D&G, De Witt and are wearing them with pride, but they do not know that they are not originals. Even these wise folks who go about flaunting their Blancpain do not know or have any clue about what they have on their Ebel, Emporio Armani, Fendi, Ferrari, Fortis, Fossil, Franck Muller, Girard Perregaux, Glashutte, Graham, Gucci, Guess and Hamilton . It is amazing to see what technology can do. People cannot differentiate between watches that cost thousands of dollars and BMW that do not cost even a fraction of the Breguet. There are some who are worried if these Breitling will provide Burberry with proper time or not. Bvlgari have already seen its beauty and know that the manufacturers of these Calvin Klein have made no compromises over there. They also know that they have paid a relatively low price for these Carl F. Bucherer.
The Dream is the first
The Dream is the first celebrity I have seen rocking the white louis vuitton evidence Sunglasses($675), and he definitely won’t be the last. and Ashley Tisdale love their prada handbags and they are amazing.burberry has bowed to pressure and is increasing its redundancy payoffs in an effort to put to rest the clash over its decision to close its factory in Wales .
If you are looking for coach
If you are looking for coach handbags, but they are expensive shopping at coach purses outlet stores can help you. You will like because it have so many things in it, including the discount coach purses, coach bags, coach shoes. If you want to get more information, kindly visit our website: coach handbags outlet.
rosetta stone, French,
rosetta stone, French, Italian, Chinese and Much More Languages,rosetta stone spanish, 50% OFF & Free Shipping WorldWide. rosetta stone language