Proklamasi negara Palestina sebenarnya dilakukan berkali-kali. Misalnya, pada 1948, ketika diproklamasikan negara Israel, Mufti Palestina Muhammad Amin al-Husaini juga mendeklarasikan negara Palestina dengan Jerusalem sebagai ibu kota. Namun, usaha itu gagal karena Palestina yang tergabung dalam sekutu Arab kalah perang lawan Israel.
Pada 15 November 1988, tokoh-tokoh Palestina yang sedang mengungsi di Aljazair juga memproklamasikan Negara Palestina, namun negara yang berdaulat belum juga terwujud karena kurangnya pengakuan dari dunia internasional.
Hingga datang kesepakatan Oslo 1993 yang masing-masing pihak Israel dan Palestina saling "mengakui" eksistensi masing-masing, namun Negara Palestina belum lahir, masih menjadi tawanan dalam kesepakatan itu.
Selanjutnya, segala yang mewakili Palestina di tingkat nasional dan internasional dipresentasikan oleh otoritas nasional Palestina (al-sulthah al-wathaniyah al-filasthiniyah), yang posisinya seperti lembaga pemerintah dalam negara yang berdaulat. Di dalamnya ada parlemen, presiden, perdana menteri, dan kabinet.
Putusan itu memang tidak adil, Palestina harus mengakui Israel sebagai negara, sementara Israel belum mengakui berdirinya Negara Palestina. Sebab, untuk kesepakatan berdirinya Negara Palestina, kedua belah pihak masih tidak sepakat untuk beberapa agenda yang sangat pelik: status kota Jerusalem, nasib pengungsi Palestina, dan permukiman Yahudi yang berdiri di wilayah Palestina.
Artinya, Israel sebenarnya akan setuju Negara Palestina berdiri, namun dengan syarat-syarat yang tidak bisa diterima oleh pihak Palestina, misalnya, Jerusalem tetap wilayah Israel.
Sebaliknya, bagi Palestina, Jerusalem diklaim sebagai ibu kota negara yang di dalamnya berdiri Masjid Al-Aqsha -Palestina sebagai negara tidak memiliki kekuatan militer (demiliterisasi), dan pengungsi-pengungsi Palestina yang berjumlah jutaaan di negeri-negeri jiran tidak boleh kembali.
Secara otomatis, Palestina menolak mentah-mentah proyeksi negara Palestina versi Israel tersebut. Sebab, dengan menyetujuinya, itu berarti akan berdiri Negara Palestina yang tidak memiliki kedaulatan penuh.
Hingga saat ini, Negara Palestina masih tergadaikan, baik oleh perundingan Israel-Palestina maupun konflik internal dalam Palestina sendiri antara Fatah dan Hamas. Dalam Pemilu Legislatif 2006, Hamas menang dan menggusur posisi Fatah di parlemen dan eksekutif. Bagi Fatah, naiknya Hamas itu bukan hanya merebut kekuasaan mereka, namun proses perundingan dan perdamaian dengan Israel akan berubah 180 derajat.
Solusi ideal perundingan dengan Israel adalah sama-sama mengakui dua negara: Negara Israel dan Negara Palestina, sedangkan Hamas tidak akan pernah mengakui Negara Israel.
Hal itu sama saja dengan membiarkan nasib Negara Palestina lari mundur ke belakang: kembali ke konflik bersenjata dengan Israel. Fakta lain, Iran, Syria, Hizbullah di Lebanon, dan Ikhwanul Muslimin di Mesir berada di balik sikap militan Hamas itu.
Namun, fakta lain yang tidak bisa ditolak, semenjak wafatnya pemimpin sekaligus Presiden Palestina Fatah Yasser Arafat dan merebaknya korupsi di tubuh Fatah, di mata rakyat Palestina Fatah kehilangan popularitasnya. Inilah yang menciptakan konflik sampai sekarang sehingga dua wilayah Palestina: Jalur Gaza dan Tepi Barat jadi terpisah. Gaza -yang dulu basis Fatah-dikuasai Hamas, sedangkan Tepi Barat dikuasai Fatah.
Ke depan, berdirinya ''Negara Palestina" sewajibnya menjadi agenda nasional antara Fatah dan Hamas yang sedang bertikai. Persoalan sebenarnya terletak pada elite politik Palestina. Faktanya, rakyat Palestina sendiri tetap memprioritaskan berdirinya Negara Palestina.
Hal itu bisa kita cermati dari hasil polling Jerusalem Media & Communication Center Maret 2007 bahwa 46,7 % rakyat setuju dengan berdirinya Negara Palestina yang berdampingan dengan Negara Israel. Sementara yang setuju dengan agenda Hamas (hanya ada satu negara Palestina dan Negara Israel dilenyapkan) hanya 26,5 %.
Di sisi lain, polling yang dilakukan Market Watch di Israel Juli 2007, rakyat Israel juga setuju berdirinya dua negara: Israel dan Palestina yang berdampingan dan sama-sama berdaulat dengan jumlah 74 %.
Sebaliknya, yang bersikap keras dalam satu negara hanya 14 %. Meskipun dalam hasil polling itu ada catatan soal kepercayaan rakyat Israel terhadap hasil kesepakatan itu hanya 62 %.
Persaingan HAMAS dan FATAH
Hamas merupakan pihak yang selama ini dianggap sebagai ancaman terhadap stabilitas Israel. Di samping itu, Israel juga menuduh Suriah (Syria), Iran, dan Hizbullah di Lebanon. Untuk melawan kekuatan tiga kelompok terakhir tentu bukanlah hal yang mudah. Karena itu, menyerang Hamas merupakan pilihan yang paling mungkin dan paling mudah.
Setidaknya ada empat alasan utama memilih Hamas sebagai target utama. Pertama, Hamas dianggap sebagai musuh utama bagi eksistensi Israel. Sejak kemenangan Hamas dalam pemilu dan memegang kendali politik di Palestina, mereka mengeluarkan pernyataan politik dengan tidak mengakui eksistensi Israel sebagai negara yang sah. Mereka memilih untuk memutuskan hubungan dengan Israel dalam bentuk apa pun. Tidak ada pintu damai dengan Israel.
Kedua, Hamas diam-diam sedang memperkuat persenjataan mereka, khususnya dengan dukungan Iran. Rupanya, upaya perlawanan Hamas terhadap Israel bukan hanya isapan jempol. Dalam beberapa tahun ke depan, Hamas dianggap sebagai ancaman serius bagi Israel. Faktanya, dalam beberapa minggu terakhir, Hamas telah melancarkan serangan ke Israel Selatan. Setidaknya, satu orang tewas dalam serangan tersebut.
Ketiga, Hamas merupakan kekuatan politik yang paling populer di Palestina, khususnya di Jalur Gaza. Jika dilaksanakan pemilu yang jujur dan bebas, yang rencananya digelar awal Januari nanti, sudah hampir bisa dipastikan bahwa Hamas akan menjadi pemenangnya. Sedangkan Fatah, yang dipimpin Mahmud Abbas, sudah bisa dipastikan bakal kalah karena mereka dikenal sebagai boneka AS dan Israel. Selain itu, Fatah dikenal dengan pemerintahan yang korup.
Keempat, Israel sepertinya sudah mengantongi jaminan dari Mesir untuk tidak membuka perbatasan sebagai satu-satunya pintu keluar bagi pemimpin Hamas. Dengan demikian, serangan akan benar-benar efektif untuk menghabisi dan menangkap tokoh-tokoh kunci Hamas.
Jadi, faktor Hamas sangat dominan dalam aksi Israel kali ini. Menurut Ethan Bronner dalam analisisnya di harian International Herald Tribune, aksi Israel merupakan aksi balasan terhadap serangan Hamas sekaligus untuk menunjukkan gigi mereka setelah kekalahan memalukan saat melawan Hizbullah.
Maknanya, jika Israel tidak melakukan balasan, Hamas dan sekutunya akan menganggap bahwa Israel sebenarnya tidak mempunyai kekuatan apa-apa. Atas alasan itu, menurut Mark Regev, juru bicara Perdana Menteri Ehud Olmert, Israel merasa perlu memberikan peringatan tentang kekuatas Israel yang sesungguhnya.
Kerugian terbesar yang harus dibayar kedua pihak, khususnya Israel-Palestina, adalah peta damai yang sebenarnya sudah menghitung hari. Di akhir pemerintahan George W. Bush sebenarnya asa perdamaian hampir menjadi kenyataan. Kedua pihak sudah menyepakati perihal kemerdekaan masing-masing, yaitu dua negara dalam satu bangsa. Di samping perlunya gencatan senjata bagi kedua pihak dan memulihkan kembali hubungan politik dan ekonomi.
Pascaserangan Israel ke Jalur Gaza harus dikatakan telah memupuskan harapan semua pihak untuk memuluskan peta damai. Ganjalan yang utama sebenarnya juga terdapat pada masalah politik di internal Palestina. Konflik antara Hamas dan Fatah yang tidak berujung juga menjadi kelemahan tersendiri bagi Palestina. Tidak adanya kemufakatan kedua pihak untuk mengedepankan kepentingan masa depan Palestina akan menjadi hambatan serius, terutama untuk menaikkan posisi tawar dan melawan Israel.
Faktor AS juga sangat signifikan dalam mengatasi masalah tersebut. Israel tidak akan melakukan tindakan apa-apa jika tidak mendapatkan ''restu'' dari AS. Bahkan, Obama sekalipun mempunyai perspektif yang lumayan negatif terhadap Hamas. Meskipun terpilihnya Obama disambut positif pihak Hamas, Obama sendiri memberikan peringatan kepada Hamas agar mengubah sikap politiknya yang keras, kaku, dan menolak negosiasi.
Hamas dan Fatah Terjebak Pecah Belah Israel
Berikut wawancara dengan Presiden PKS Tifatul Sembiring :
Keberanian Israel menggempur Palestina, khususnya basis Hamas di Gaza, tampaknya karena melihat peluang banyaknya tokoh Palestina sendiri yang tidak senang pada Hamas. Apa komentar Anda?
Kalau dikatakan banyak tokoh tidak senang pada Hamas, saya kira tidak. Serangan itu memang sudah direncanakan Israel. Tokoh-tokoh Palestina justru mayoritas Hamas. Israel sejak dulu memang melakukan strategi pecah belah untuk melemahkan rakyat Palestina. Dan memang harus diakui, banyak tokoh Fatah yang terpengaruh dan ''bermain''. Israel melihat peluang pecah belah itu sejak lama dan sampai sekarang strategi mengadu domba tersebut terus dilakukan.
Pemerintah Palestina, tampaknya, sulit meyakinkan kelompok Hamas. Apakah kedua kelompok itu memang tidak bisa bersatu lagi?
Harus dipahami, Hamas yang didirikan pada 1987 dilandasi kegemasan rakyat Palestina terhadap pemerintahannya sendiri. Hamas populer karena mereka menjawab langsung kebutuhan rakyat. Mereka yang mendampingi rakyat saat krisis bertahun-tahun. Sekarang, jika Hamas dipaksa gencatan senjata, sementara Israel terus memblokade jalur makanan dan obat-obatan, itu berarti mereka dipaksa mati pelan-pelan.
Israel sangat gembira jika pertikaian Fatah dengan Hamas terus berlangsung. Sebab, itu melemahkan perjuangan mereka. Kita juga melihat banyak tokoh Fatah yang dekat dengan petinggi Israel. Sebuah laporan bahkan menyebutkan mereka mendapatkan bantuan finansial tetap dari Israel.
Mereka berbeda pendapat soal keberadaan Israel sebagai negara. Apakah ada perbedaan yang lebih penting dari itu?
Saat terjadi penyerangan dan pengusiran warga Palestina, kita membaca bahwa banyak tokoh Fatah yang mengungsi. Misalnya, dalam kasus Shabra dan Shatila. Sedangkan Hamas tetap tinggal bersama rakyat. Hamas juga sama sekali menolak bantuan apa pun dari Israel dan negara kroni-kroninya.
Bagi Hamas, tanah rakyat Palestina itu mulai Laut Tengah di selatan sampai Sungai Jordan di utara, sedangkan Israel memecah-mecah wilayah Palestina. Mereka mendirikan negara di tengah-tengah dan mengusir rakyat Palestina. Hamas juga melawan politik pecah belah dan adu domba Israel. Gerakan mereka untuk semua warga, baik muslim maupun Kristen.
Hamas pernah memenangi pemilu secara demokratis, tapi tidak diakui AS. Apakah itu yang membuat Hamas merasa lebih besar dan sah menyuarakan rakyat Palestina?
Itulah sikap besar hati Hamas. Ketika AS dan seluruh kroninya mendesak agar ada pemilu di Palestina, Hamas pun bersedia. Mereka terpilih secara demokratis hingga meraih suara mutlak 70 persen. Itu namanya absolute majority atau mayoritas mutlak.
Rakyat memilih Hamas karena tahu persis apa yang dikerjakan Hamas saat krisis terjadi. Tapi, hasil pemilu yang demokratis tersebut diingkari Amerika. Itu bukti sikap ganda mereka. Tidak perlu merasa lebih besar. Kenyataannya, mayoritas rakyat Palestina adalah pendukung utama Hamas.
Karena kita harus mendukung Palestina, sebaiknya sebagai muslim Indonesia, kita mendukung Hamas atau Fatah? Mengapa?
Yang jelas, jalur Gaza itu semua dikuasai Hamas. Mutlak. Sedangkan yang di West Bank (Tepi Barat), itu masih ada suplai bantuan dari Israel. Tapi, mari kita lihat bukan dari membantu Hamas atau Fatah dari sisi kemanusiaan. Selain itu adalah perintah agama, kita lihat dalam pembukaan UUD 1945, kita ini bangsa anti penjajahan.
Karena itu, kita mendukung Palestina karena Israel adalah penjajah. Dukungan tersebut ada sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung. Karena itu, kita membela Palestina bukan melihat mereka sebagai Fatah atau Hamas, melainkan melihat mereka sebagai rakyat yang terjajah dan sedang ditindas Israel.
Apakah ada tokoh Indonesia yang bisa mendamaikan kedua kelompok itu?
Posisi kita ini agak sulit karena kita orang luar ya. Kita memang sangat gemas pada sikap bangsa Arab karena komitmen persatuan itu sangat susah diwujudkan. Pernah saya tanyakan kepada tujuh pimpinan organisasi-organisasi di Arab, mengapa Anda tak bisa bersepakat melawan Israel?
Mereka menjawab karena kami ini memang bertujuh. Saya juga pernah sampaikan kepada Presiden Mahmoud Abbas saat dia berkunjung ke sini. Saya bilang kepada dia, pakaian kotor tidak perlu dicuci di rumah tetangga. Artinya, jika ada permasalahan internal, tak perlu melibatkan Israel. Mereka itu licik dan memanfaatkan itu untuk adu domba.
Bukankah perpecahan Palestina tersebut menyulitkan muslim Indonesia untuk mendukung Palestina? Bagaimana kita harus bersikap?
Sekarang ini kondisinya darurat. Rakyat di Palestina benar-benar tak berdaya. Semua jalur obat-obatan dan makanan diblokade Israel. Karena itu, bantuan yang sangat dibutuhkan adalah makanan dan obat-obatan. Kami sudah mengirim dua dokter ke sana. Mereka lapor bahwa penjagaan di Rafah (perbatasan Mesir-Gaza) dijaga ketat oleh dua lapis tentara. Lapis pertama tentara Mesir, lapis kedua tentara Israel.
Jadi, Israel memang benar-benar mempersulit semua akses masuk ke sana. Tapi, kami tidak menyerah. Kami akan mengirim 20 relawan lagi ke Mesir untuk berkoordinasi dengan jaringan kami di sana. Rakyat Palestina sedang memasuki musim dingin sampai Februari nanti. Mereka butuh pakaian hangat dan selimut. Dukungan dana kita sekecil apa pun, insya Allah, akan sangat berguna di sana.
Menurut Anda, mungkinkah konflik Palestina diselesaikan kalau dua kelompok tersebut masih bertikai?
Sulit, Mas. Ini masih akan lama dan panjang.
Israel adalah anak laki-laki AS di Timur Tengah. Pada pemerintahan Obama nanti, kalau berubah, Israel tetap saja menjadi anak, walau mungkin anak perempuan. Setujukah Anda?
Dalam surat saya dan tadi saya tegaskan lagi dalam orasi. Obama, kami mengamati Anda. Anda bersemboyan Change We Believe In, maka buktikan perubahan itu di Timur Tengah. Tapi, memang kami agak pesimistis karena memang Obama sangat dekat dengan komunitas Yahudi. Dia juga aktif berkampanye di basis-basis suara kaum Yahudi di Amerika. Karena itu, kami tidak berharap banyak.
With advances in technology
With advances in technology the manufacturers of A.Dunhill are using more foolproof technologies to deter their A.Lange&Sohne from being copied. But then, the Alain Silberstein of Audemars Piguet are also using the same technology to manufacture their B.R.M and hence these timepieces are exact replicas of the Baume & Mercier. There are countless people who have been gifted with these Bell&Ross, Cartier, Chanel, Chopard, Christian Dior, Chronoswiss, Concord, Corum, D&G, De Witt and are wearing them with pride, but they do not know that they are not originals. Even these wise folks who go about flaunting their Blancpain do not know or have any clue about what they have on their Ebel, Emporio Armani, Fendi, Ferrari, Fortis, Fossil, Franck Muller, Girard Perregaux, Glashutte, Graham, Gucci, Guess and Hamilton . It is amazing to see what technology can do. People cannot differentiate between watches that cost thousands of dollars and BMW that do not cost even a fraction of the Breguet. There are some who are worried if these Breitling will provide Burberry with proper time or not. Bvlgari have already seen its beauty and know that the manufacturers of these Calvin Klein have made no compromises over there. They also know that they have paid a relatively low price for these Carl F. Bucherer.
You have always been
You have always been dreaming to get the prestigious brands as louis vuitton, chanel, gucci, prada, Hermes, Bally, Marc Jacobs, Miu Miu, Chloe, Yves Saint Lauren, Christian Dior and many more. We offer all theses famous brands at much lower price
rosetta stone, French,
rosetta stone, French, Italian, Chinese and Much More Languages,rosetta stone spanish, 50% OFF & Free Shipping WorldWide. rosetta stone language